1) Saat Budi hendak menyebrang jalan, ia melihat seorang ibu tua renta yang terlihat kepayahan menenteng barang belanjaan. Sepertinya, ibu itu hendak ke seberang jalan. Budi kemudian menghampirinya dan membantu ibu itu membawakan barang belanjaan dan menuntunnya menyeberangi jalan. 2) Kami bermain hingga arlojiku menunjukkan pukul 11 siang. Ingin saja kami berjalan untuk pulang, tiba-tiba kami mendengar bunyi irama yang amat cepat. Aku tak mengerti dari mana bunyi itu dihasilkan. Tapi, ketika aku menoleh dan melihatnya ternyata ada beberapa bapak-bapak yang sedang memainkan barongan. 3) Beberapa minggu setelah tes beasiswa. Kami melihat hasil tesnya secara online dan kami semua lulus. Mimpi kami terasa hangat, Tuhan mendengar do'a kami. Aku terharu, bersyukur dengan dalam. 4) Meskipun kehidupan Prakasa sangat berat dan menyedihkan, Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaan dan selalu mencari jalan keluar setiap masalah, bukan malah bunuh diri. Bunuh diri bukan jalan terbaik meski apapun hadangannya. Kata-kata klise memang terkadang tetap dibutuhkan untuk motivasi meskipun terdengar pencitraan namun begitulah adanya. 5) Debby selalu memuji-muji adiknya, Lina, yang menurutnya paling pintar sedunia. ”Adikku sayang, kamu memang pintar dan rajin. Kakak salut, kakak bangga. Tentu mama pun yang ada di dunia sana bahagia melihat prestasimu itu.” 6) “Kupukul kau kalau tidak mau mengaku. Dengan cara apa lagi aku mendapatkan pengakuanmu.” 7) Aku ingin membeli pakaian yang seperti kamu beli kemarin. Gak apa-apa walaupun harus pinjam uang sama kakakku. Yang penting pakaian itu bisa kumiliki. 8) Radi duduk dengan santai walaupun di hadapannya ada mertua dan adik-adiknya. Kakinya diangkat sebelah ke tangan kursi di sebelahnya. 9) Pagi-pagi, Andra sudah siap dengan perbekalannya. Aneka makanan ringan sudah dimasukannya ke tas besar. Begitu merasa segalanya sudah lengkap, bergegas ia menuju ruang tengah untuk sarapan. 10) Menjelang hari raya ini, aku terbaring di rumah sakit. Dari jendela kamar rumah sakit yang kudiami, aku bisa melihat keluar dengan jelas. Hujan menderas, manusia-manusia menepi pada kesunyian, lagu hujan, lagu keleneng becak. Di ruangan ini, aku cuma berdua. Selisih satu ranjang, terbaring seorang perempuan tua. Sendiri. Tak kulihat semenjak aku di sini, seorang pun yang menengoknya, yang mengajaknya bercakap, kecuali dokter dan perawat yang memeriksanya. Itu pun sesuai jadwal dan sebentar saja. 11) Aku menghela napas panjang, bersandar di bawah pohon, menatap dedaunan di senja yang sepi itu. Tiba-tiba, aku teringat kenangan saat menjadi siswa SMP dulu. Rasanya begitu menyenangkan. Aku tersenyum kecil dan memejamkan mata. Meresapi kenangan itu lebih dalam diiringi sepoi angin yang menenangkan. 12) Satrio tidak percaya ia dapat dikalahkan oleh anak SMP. Mana mungkin dirinya yang hebat itu bisa tunduk oleh anak kecil semacam itu? Siapa anak itu sebenarnya? Satrio benar-benar tidak habis pikir. 13) Sebelum subuh mereka telah bangun. Siti Rubiyah ikut bangun pagi dan memasak kopi dan makanan pagi untuk mereka. Buyung merasa berat dalam hatinya berangkat. Dia teringat Siti Rubiyah yang ditinggalkan sendiri dengan Wak Hitam yang masih sakit. Kemarin malam panasnya naik lagi hingga dia mengerang-ngerang sepanjang malam dan sepanjang malam terdengar dia tak tertidur. 14) Aku merasa ringan, kini aku sudah menceritakan kepada kalian di depan Wak Katok beban dosa yang selama ini menghimpit hatiku dan kepalaku. Aku sudah mengakui dosa-dosaku, dan tolonglah doakan supaya Tuhan suka kiranya mengampuni dosa-dosa Wak Katok ...”. Pak Balam mendekatkan kedua belah telapak tangan seperti orang berdoa, dan mulutnya komat-kamit. Pak Haji bertakbir, perlahan-lahan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! 15) Apa yang kurasa aneh, bahwa ibu tak menampakkan kesuraman wajah dan kesedihan hati menjelang saat-saat perpisahan dengan ayah, seakan-akan berlawanan dengan wataknya yang halus. Apakah ia memang hendak menyembunyikan air matanya, agar ia tidak tampak sebagai orang yang sedang kehilangan pegangan? Karena bila kau memandangnya, matanya tampak bersinar cerah. 16) Sukri menanti bis melintas di halte. Dia gemas melihat skuter melintas. Dia benci melihat kendaraan itu. Dia raba pisau belati di pinggangnya. Dia buka pintu pagar rumah Sumarni. Dia lihat skuter itu. Dia lihat Sumarni menerima pemuda pengendara skuter di ruang tamu. Dia melompat ke balik semak-semak bunga mawar. Dia dengarkan percakapan Sumarni dan pemuda pengendara skuter di ruang tamu. 17) Budi adalah anak yang rajin belajar dan sering mendapat ranking di kelasnya, akan tetapi dia sombong. 18) Cherry menatap anak-anak kecil yang bermain di taman itu, "anak kecil itu selalu lincah, betapa lucunya. aku jadi teringat saat aku masih kecil dulu, ibuku membawakanku bekal saat aku pergi ke sekolah. tapi sekarang ibuku telah pergi." batin Cherry. 19) Pagi hari itu, Dino seperti biasa mengantarkan koran dengan sepeda roda duanya yang ia kayuh setiap hari. di sebuah jalan, Dino melihat seorang pengemis yang tua renta, karena Dino merasa iba ia pun memberi pengemis itu uang. 20) Waktu adzan kau tak melakukan apa-apa tapi mematung menatap cermin. Kadang kaukencangkan suara tape karena tahu tak ingin sembahyang atau menangis. Jika melintas bayangan penghuni rumah yang lain di jendela kamarmu engkau mengambil sebuah buku besar dan berpura-pura telah membacanya sejak lama. 21) Malam itu warga Ibu Kota digemparkan oleh tidak bundarnya lagi Bulan di atas langit Jakarta. "Pasti aksi teroris!" kata seorang bapak RT. "Kali ntu ade ubungannye ama tukang nasgor nyang ilang di depan rume Pondok Indah!" kata seorang abang ojek yang konon pernah mencoba minta nomer togel di rumah hantu itu. 22) Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabatpun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh – jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya. 23) Dan aku merasa sangat girang bisa melihat begitu banyak binatang berkeliaran, berbaur dengan manusia. Aku tahu itu binatang karena mereka memiliki moncong. Semacam bibir yang menjorok ke depan. Ibu pernah bercerita, bahwa salah satu perbedaan fisik manusia dan binatang adalah pada moncongnya. 24) Sebelum subuh mereka telah bangun. Siti Rubiyah ikut bangun pagi dan memasak kopi dan makanan pagi untuk mereka. Buyung merasa berat dalam hatinya berangkat. Dia teringat Siti Rubiyah yang ditinggalkan sendiri dengan Wak Hitam yang masih sakit. Kemarin malam panasnya naik lagi hingga dia mengerang-ngerang sepanjang malam dan sepanjang malam terdengar dia tak tertidur. 25) Aku merasa ringan, kini aku sudah menceritakan kepada kalian di depan Wak Katok beban dosa yang selama ini menghimpit hatiku dan kepalaku. Aku sudah mengakui dosa-dosaku, dan tolonglah doakan supaya Tuhan suka kiranya mengampuni dosa-dosa Wak Katok ...”. Pak Balam mendekatkan kedua belah telapak tangan seperti orang berdoa, dan mulutnya komat-kamit. Pak Haji bertakbir, perlahan-lahan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! 26) Apa yang kurasa aneh, bahwa ibu tak menampakkan kesuraman wajah dan kesedihan hati menjelang saat-saat perpisahan dengan ayah, seakan-akan berlawanan dengan wataknya yang halus. Apakah ia memang hendak menyembunyikan air matanya, agar ia tidak tampak sebagai orang yang sedang kehilangan pegangan? Karena bila kau memandangnya, matanya tampak bersinar cerah. 27) Meskipun kehidupan Prakasa sangat berat dan menyedihkan, Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaan dan selalu mencari jalan keluar setiap masalah, bukan malah bunuh diri. Bunuh diri bukan jalan terbaik meski apapun hadangannya. Kata-kata klise memang terkadang tetap dibutuhkan untuk motivasi meskipun terdengar pencitraan namun begitulah adanya. 28) Cherry menatap anak-anak kecil yang bermain di taman itu, "anak kecil itu selalu lincah, betapa lucunya. aku jadi teringat saat aku masih kecil dulu, ibuku membawakanku bekal saat aku pergi ke sekolah. tapi sekarang ibuku telah pergi." batin Cherry. 29) Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabatpun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh – jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya. 30) Dan aku merasa sangat girang bisa melihat begitu banyak binatang berkeliaran, berbaur dengan manusia. Aku tahu itu binatang karena mereka memiliki moncong. Semacam bibir yang menjorok ke depan. Ibu pernah bercerita, bahwa salah satu perbedaan fisik manusia dan binatang adalah pada moncongnya. 31) Saat Budi hendak menyebrang jalan, ia melihat seorang ibu tua renta yang terlihat kepayahan menenteng barang belanjaan. Sepertinya, ibu itu hendak ke seberang jalan. Budi kemudian menghampirinya dan membantu ibu itu membawakan barang belanjaan dan menuntunnya menyeberangi jalan. 32) Pagi hari itu, Dino seperti biasa mengantarkan koran dengan sepeda roda duanya yang ia kayuh setiap hari. di sebuah jalan, Dino melihat seorang pengemis yang tua renta, karena Dino merasa iba ia pun memberi pengemis itu uang. 33) Waktu adzan kau tak melakukan apa-apa tapi mematung menatap cermin. Kadang kaukencangkan suara tape karena tahu tak ingin sembahyang atau menangis. Jika melintas bayangan penghuni rumah yang lain di jendela kamarmu engkau mengambil sebuah buku besar dan berpura-pura telah membacanya sejak lama. 34) Malam itu warga Ibu Kota digemparkan oleh tidak bundarnya lagi Bulan di atas langit Jakarta. "Pasti aksi teroris!" kata seorang bapak RT. "Kali ntu ade ubungannye ama tukang nasgor nyang ilang di depan rume Pondok Indah!" kata seorang abang ojek yang konon pernah mencoba minta nomer togel di rumah hantu itu. 35) Pagi-pagi, Andra sudah siap dengan perbekalannya. Aneka makanan ringan sudah dimasukannya ke tas besar. Begitu merasa segalanya sudah lengkap, bergegas ia menuju ruang tengah untuk sarapan. 36) Satrio tidak percaya ia dapat dikalahkan oleh anak SMP. Mana mungkin dirinya yang hebat itu bisa tunduk oleh anak kecil semacam itu? Siapa anak itu sebenarnya? Satrio benar-benar tidak habis pikir.

Classifica

Stile di visualizzazione

Opzioni

Cambia modello

Ripristinare il titolo salvato automaticamente: ?